Oleh: Fendy Yainahu
Ufuk Timur negeri Al-Mulk, di bumi Sula yang diberkahi Allah, bulan Rabiul Awal datang membawa kabar, tentang lahirnya kekasih Allah, penutup para nabi,
penyempurna cahaya iman.
Di negeri ini, tradisi terjaga,
sebulan penuh, rumah demi rumah
menjadi taman cahaya, penuh lantunan salawat, doa, dan dzikir, bukan pesta dunia, melainkan pesta ruhani yang menyatukan hati umat.
Siang dan malam, lampu pelita menyala,
suara rebana berpadu dengan salawat,
anak-anak berlari sambil membawa senyum, orang tua berwajah teduh,
menyambut tamu dengan tangan terbuka,
karena setiap rumah adalah baitul mahabbah, rumah cinta kepada Rasulullah.
Wahai Muhammad, ya Habibullah,
di setiap ayunan suara kami menyebut namamu, air mata menetes tanpa terasa,
bukan karena duka, tetapi karena rindu yang tak pernah sirna.
Dari rumah satu ke rumah yang lain,
kami duduk bersila, membaca barzanji,
mendengar kisah agungmu, tentang akhlak yang selembut bulan, tentang kasihmu yang melebihi samudera, tentang perjuanganmu membawa cahaya
di tengah kegelapan dunia.
Ya Rasulullah, sungguh negeri Sula jauh dari tanah haram, tapi cinta kami tak pernah berkurang, dalam setiap maulid yang kami rayakan, kami titipkan salam,
semoga sampai ke hadapanmu di telaga kautsar.
Sehari, dua hari, hingga genap sebulan,
dzikir tak berhenti, doa tak terputus,
karena Maulid bukan sekadar peringatan,
tapi janji cinta yang diperbarui setiap tahun.
Ya Allah, jadikan Maulid di negeri ini
sebagai cahaya yang menerangi desa-desa kami, satukan hati kami dalam cinta Rasul-Mu, berkahilah anak-anak kami dengan iman, dan jadikan kami umat yang tetap teguh meneladani Nabi, sampai ajal menjemput, sampai kelak berkumpul kembali di bawah panji Rasul tercinta.
Salawat dan salam dari bumi Sula untuk junjungan alam semesta. Semoga!








Tinggalkan Balasan