“Jingga yang Candu”
Kepada jingga yang pergi…
Aku tak ingin menitipkan harap, aku tak ingin mengucap lebih hingga memberi janji, apalagi sampai mengemis yang disertakan linangan air mata.
Teruslah menjadi diri sendiri dengan segala yang ada, meskipun sesekali gumpalan awan hitam berserakah lantaran datangnya hujan.
Kepada jingga yang pergi…
Maafkan atas segala kesempatan yang terabaikan, khilaf yang terlanjur membuat luka, dan cinta yang tak tersampaikan.
Di akhir tatap sebelum berpaling muka untuk mengucapkan selamat tinggal, ada satu kalimat yang perlu ku lontarkan: tentangmu, aku candu.
Selamat jalan, Jingga! š
Sulabesi, 15 Februari 2026
Penulis: Nai Am







