SANANA-Masyarakat Desa Bega, Kecamatan Sulabesi Tengah dalam catatan sejarah, senantiasa merayakan hari Tasyrik yang bertepatan dengan tanggal, 11, 12, hingga 13 Dzulhijjah usai lebaran Idul Adha.

Perayaan hari Tasyrik yang bertajuk tema, “Merawat Warisan Tradisi di Hari Qurban: Saatnya Berbenah Iman, Akhlak, dan Ukhuwah Basyariah” tersebut, bukan hanya sekadar rangkaian kegiatan seremonial yang mengisahkan sejarah pengorban antara tiga sosok manusia besar, yakni Nabiyullah Ibrahim As, anaknya Ismail As, serta Siti Hajar, sebagaimana dalam QS Ash-Saffat (37): 100-101, melainkan bagian daripada mengenal makna jati diri dan mengenang cerita leluhur orang Bega dari waktu ke waktu.

“Terkenang selalu bagi kami masyarakat Desa Bega, yakni di sebuah gubuk yang sangat sederhana, tepatnya pada tahun 1956, bertemunya 3 sosok orang tua Bega yang mempunyai ide dan gagasan yang menjadi cikal bakal terjadinya perayaan Tasyrik di Desa Bega,” ungkap Kepala Desa Bega, Darmin Fatmona kepada aksaramalut.com ketika diwawancarai. Sabtu, (30/5/2026).

Setelah ketiga orang tua tokoh penggagas Tasyrik, diantaranya Alm. Abdulah Umakaapa, Alm. Daeng Fatmona, dan Alm. Abdul Basir Umakaapa, maka terjadilah sebuah kesepakatan, agar bapak Abdulah Umakaapa berangkat dan bertemu dengan gurunya, Abubakar Bin Yahya di kota Ambon untuk meminta petunjuk terkait dengan perayaan Tasyrik.

Sambutan Kepala Desa Bega, Darmin Fatmona. (Dokumentasi: Am Teapon)

Darmin menceritakan, sekembalinya Bapak Abdulah Umakaapa dari Ambon, bertemu kembali tiga orang tokoh tersebut, untuk membicarakan hasil pertemuan Bapak Abdulah Umakaapa dengan gurunya di Ambon. Pada akhirnya, tercatuslah sebuah kesepakatan agar perayaan tasyrik ini, memiliki sebuah wadah tersendiri maka dibentuklah dewan tasyrik atau panitia tasyrik. Untuk itu, dipangilah 7 generasi muda yang terwakili dari beberapa soa atau marga yang ada di Desa Bega pada saat itu.

Ke-tujuh generasi muda tersebut, yaitu:

1. Bapak Abdullah Umakapa, sebagai Ketua Dewan Tasyrik 

2. Bapak Yusuf Fatmona, sebagai Sekretaris 

3. Bapak Mohammad Yamin Fatmona, sebagai Bendahara I

4. Bapak Hamid Waibot, sebagai Bendahara II

5. Bapak Araf Yakseb, sebagai Mata Oga Wek/Dusun A

6. Bapak Mahmud Pauwah, sebagai Mata Oga Wek B, dan

7. Bapak Nai Fokaaya, sebagai Mata Oga Wek C.

“Perayaan hari Tasyrik yang dilaksanakan dari tahun ke tahun, tepatnya pada hari ini, telah masuk pada Tasyrik yang ke-68 tahun, yang dimulai sejak tahun 1958,” jelasnya.

Diketahui, perayaan Tasyrik seperti yang dicetuskan pada tahun 1958, memiliki 5 dasar tujuan utama, yaitu meliputi:

1. Berkumpulnya orang Bega di satu tempat untuk mendengarkan nasihat agama

2. Berkumpulnya orang Bega di satu tempat untuk maksaira, manatol, do magugasa

3. Berkumpulnya orang Bega di satu tempat untuk berbicara masalah sosial dan ekonomi pia Bega

4. Berkumpulnya orang Bega di satu tempat untuk berbicara masalah pendidikan pia Bega

5. Berkumpulnya orang Bega di satu tempat untuk bicara masalah Haji-nya pia Bega

“Sehingga bukan saja orang Bega berkumpul di satu tempat untuk sekedar melaksanakan acara serimonial belaka, akan tetapi lima dasar tujuanlah yang menjadi pedoman sekaligus barometer masyarakat Desa Bega untuk melaksanakan perayaan Hari Tasyrik,” tutup Darmin.

Penulis: Nai Am