Reporter: Am Teapon
SANANA-Saggar Ana Nopa Lida Yai, menyelenggarakan ritual adat Salay dan Serasehan. Kegiatan yang berlangsung di Benteng De Verwacthing Desa Mangon, Kecamatan Sanana pada Selasa, (26/10/2026) malam tersebut, merupakan kegiatan yang difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku Utara.
Ketua Sanggar Ana Nopa Lida Yai, Surahman Kemhay ketika dikonfirmasi Selasa, (27/10/2026) menyatakan, ritual adat Salay dan Serasehan yang digelar bertajuk tema, “Merawat Tradisi, Menjaga Identitas, Merajut Warisan Leluhur Sula untuk Masa Depan” sebagai bentuk kepedulian agar kebudayaan leluhur yang ada di Kabupaten Kepulauan Sula terus dilestarikan.
“Kami sengaja membuat Ritual Salay (tarian perang asli Kepulauan Sula soa/suku Fagud) dengan alasan supaya masyarakat, dan generasi Sula bisa mengetahui bahwa di Kepulauan Sula juga punya tarian perang sendiri dengan mengkolaborasikan Salay dari 4 Soa yang ada di Sula,” ungkapnya,
Surahman mengajak seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sula, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa agar memiliki komitmen yang sama, yakni melestarikan adat, budaya, dan bahasa daerah yang menjadi identitas anak negeri hai do yafai.
Selain itu, Surahman menyampaikan terima kasih kepada Balai Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Sula, Ismail Soamole, Ketua Sanggar Seni Budaya Lom Poa do Hoi, Gamar Bin Syeh Abubakar, serta semua pihak yang telah terlibat dalam mensukseskan kegiatan ritual adat Salay dan Serasehan.
“Kegiatan ini tidak akan terlaksana bila tidak ada kolaborasi dari berbagai pihak, terutama orang tua dari para penari. Ucapan terima kasih yang tak terhingga, kami juga sampaikan kepada kedua tokoh/sesepuh yang berada di Desa Waibau, pribadi bapak Hi. Abubakar Gailea dan bapak Bunyamin Gailea yang sudah turut melaksanakan proses Ritual selama proses kegiatan. Terima kasih untuk semua,” ujaranya.
Ia pun menaruh harapan besar kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku Utara agar tetap menjadi mitra yang baik dalam rangka melestarikan adat, budaya, dan bahasa daerah sebagai identitas anak negeri hai do ya fai.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku Utara melalui Kasubag Badan Pelestarian Kebudayaan, Stenly R. Loupatty, mengapresiasi kegiatan ritual adat Salay dan Serasehan yang diselenggarakan oleh Sanggar Ana Nopa Lida Yai.
“Saatnya masyarakat, pemuda, dan generasi yang memiliki peran. Sebab, melestarikan budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua sebagai generasi, khususnya generasi yang ada di Kabupaten Kepulauan Sula,” pungkasnya.







